Petani di Kolut Terancam Gagal Panen Usai Hujan Deras Guyur Puluhan Hektare Sawah

1 month ago 47

Kolaka Utara – Puluhan hektare persawahan di Kecamatan Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra), terendam genangan air setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Senin (29/12/2025) malam sekitar pukul 22.00 Wita. Kondisi ini membuat petani setempat terancam mengalami gagal panen.

Genangan air terjadi di area persawahan Kelurahan Ranteangin dan Desa Landolia. Tanaman padi yang baru ditanam dilaporkan terendam air akibat meluapnya saluran drainase yang tidak mampu menampung debit air hujan.

Warga Kolut turut menyuarakan kondisi tersebut melalui media sosial akun Facebook Umi Jusman, yang memperlihatkan sawah warga tergenang air hingga ke pematang.

“Akibat derasnya hujan semalam, sawah petani di Kelurahan Ranteangin penuh dengan air, padahal sudah banyak yang sawahnya terisi padi kasihan,” tulisnya dalam unggahannya, Selasa (30/12).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolut, Mukramin, menjelaskan genangan terjadi akibat curah hujan yang tinggi sehingga saluran drainase sekunder dan tersier tidak mampu menampung debit air.

“Akibat hujan deras pada Senin malam sekitar pukul 22.00 Wita, persawahan di Kelurahan Ranteangin dan Desa Landolia mengalami genangan. Hal ini disebabkan curah hujan yang sangat tinggi sehingga drainase sekunder dan tersier tidak mampu menampung air,” jelas Mukramin dikutip dari Pemkab Kolut, Selasa (30/12).

Ia menyebutkan, luas persawahan yang terdampak genangan mencapai sekitar 20 hektare. Tanaman padi di lokasi tersebut diketahui masih berumur sekitar 10 hari setelah tanam.

Dari sisi teknis infrastruktur, Iwan Taruna Jaya, ST, dari Bidang Pengembangan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kolut, menyampaikan bahwa kapasitas saluran pembuang di wilayah tersebut sudah tidak memadai, terutama saat hujan deras terjadi bersamaan dengan naiknya air pasang.

“Saluran pembuang yang ada tidak mampu menampung air ketika terjadi hujan deras, apalagi jika bertepatan dengan air pasang,” ujar Iwan.

Ia menambahkan, sebagian saluran merupakan hasil pembangunan program PNPM dengan dimensi lebar bawah sekitar 70 sentimeter dan lebar atas 120 sentimeter. Kondisi tersebut dinilai tidak lagi sesuai dengan perkembangan hidrologi wilayah.

“Solusi ke depan adalah pelebaran saluran dan peninggian talud. Namun, untuk pembangunan talud yang lebih tinggi, dibutuhkan hibah lahan dari masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolut, Nusba Nuhung, menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan banjir bandang, melainkan genangan air hujan akibat tingginya curah hujan dan keterbatasan sistem irigasi.

“Ini bukan banjir bandang, tetapi genangan air hujan. Tidak ada lumpur yang terbawa ke persawahan,” tegas Nusba.

Ia menjelaskan, kawasan persawahan berada di wilayah yang dipengaruhi pasang air laut. Kondisi tersebut menyebabkan air hujan sulit keluar dari areal sawah ketika hujan deras terjadi bersamaan dengan pasang.

“Irigasi sekunder dan tersier di lokasi tersebut belum mampu menampung air hujan dengan intensitas yang sangat tinggi, sehingga air meluap ke persawahan,” jelasnya.

Nusba menyebutkan, setelah dilakukan pembukaan saluran pembuang, genangan air mulai surut pada Selasa (30/12) sekitar pukul 12.00 Wita. Terkait dampak terhadap tanaman padi, Nusba memperkirakan potensi kerusakan relatif kecil.

“Kemungkinan tetap ada kerusakan, namun persentasenya diperkirakan sekitar 20 persen, karena tanaman padi masih berumur sekitar 10 hari dan genangan hanya berupa air hujan, bukan lumpur,” pungkasnya.

Post Views: 94

Read Entire Article
Rapat | | | |