Balai Taman Nasional Wakatobi Edukasi Mangrove hingga Lepas 159 Tukik

1 hour ago 2

Wakatobi – Balai Taman Nasional Wakatobi menggelar aksi kepedulian lingkungan dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia 2026. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (2/2/2026).

Kegiatan diawali dengan penyuluhan ekosistem mangrove yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait peran mangrove dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Penyuluhan diadakan di Sekretariat Kelompok Konservasi Keme Pesisir, Kelurahan Onemay.

Setelah itu, dilanjutkan dengan aksi bersih pantai di sepanjang garis pesisir Pantai Soha, Desa Kollo Soha. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan area pantai.

Petugas Balai Taman Nasional Wakatobi bersama sekelompok masyarakat saat aksi bersih pantai di sepanjang garis pesisir Pantai Soha, Desa Kollo Soha, Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).Petugas Balai Taman Nasional Wakatobi bersama sekelompok masyarakat saat aksi bersih pantai di sepanjang garis pesisir Pantai Soha, Desa Kollo Soha, Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Istimewa. (2/2/2026).

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pelepasliaran 159 tukik penyu hijau (Chelonia mydas) yang berumur dua bulan. Pelepasliaran di Pantai Soha ini berkontribusi meningkatkan peluang hidup tukik di alam sekaligus mendukung upaya pemulihan populasi penyu hijau.

Tukik tersebut berasal dari telur penyu yang direlokasi dari sejumlah pulau tak berpenghuni di dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi yang berisiko rusak akibat faktor alam maupun gangguan lainnya.

“Kegiatan pelepasan penyu erat kaitannya dengan upaya menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa biota dilindungi ini memiliki hubungan saling ketergantungan dengan ekosistem lahan basah (ekosistem mangrove) yang ada dalam kawasan,” ujar Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wakatobi, Union, kepada Kendariinfo, Selasa (3/2).

Union juga menyampaikan bahwa keberadaan ekosistem lahan basah berperan penting dalam menjaga kualitas habitat sekaligus keberlangsungan hidup penyu.

Seluruh rangkaian kegiatan diikuti sejumlah peserta yang berasal dari Kelompok Konservasi Keme Pesisir, Perwakilan ASEAN ENMAPS, Perwakilan Wakatobi Soea, serta sejumlah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Post Views: 61

Read Entire Article
Rapat | | | |