Konawe – Sebanyak 25 kader kesehatan Desa Bokori, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, dilatih melakukan skrining faktor risiko Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada wanita usia subur. Pelatihan tersebut membekali kader dengan kemampuan mendeteksi faktor risiko hingga melakukan rujukan ke Puskesmas Soropia.
Kegiatan yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Dosen Poltekkes Kemenkes Kendari itu berlangsung selama dua hari, 6 – 7 Agustus 2026, di Balai Desa Bokori.
Kegiatan tersebut dilaksanakan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Dosen Poltekkes Kemenkes Kendari yang terdiri atas Nurfantri, S.Kep., Ns., MSc., Muhaimin Saranani, S.Kep., Ns., MSc., dan Dali, SKM., M.Kes.
Nurfantri, mengatakan deteksi dini menjadi bagian penting dalam mencegah dampak PJB karena kelainan struktur dan fungsi jantung tersebut sudah ada sejak lahir dan dapat menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian pada bayi.
Menurutnya, skrining faktor risiko perlu dilakukan sejak wanita belum hamil maupun selama kehamilan. Kader kesehatan memiliki posisi penting karena menjadi bagian terdekat dari pelayanan kesehatan di tingkat desa.
“Pelatihan ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam mengenali faktor risiko, tanda dan gejala PJB, melakukan skrining sesuai prosedur, serta mencatat dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan,” kata Nurfantri kepada Kendariinfo, Rabu (12/8/2026).
Sebelum pelatihan dilaksanakan, kemampuan awal peserta diukur melalui pre-test. Peserta kemudian menerima materi mengenai PJB dan skrining faktor risiko PJB pada wanita usia subur yang disampaikan Nurfantri.
Tim kemudian memberikan simulasi dan demonstrasi pelaksanaan skrining. Peserta juga mengikuti sesi tanya jawab sebelum menjalani post-test pada akhir kegiatan hari pertama.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta. Rata-rata nilai pre-test berada pada angka 7,88 dan masuk kategori cukup dengan rentang nilai 5 – 12.
Setelah mengikuti materi dan simulasi, rata-rata nilai post-test meningkat menjadi 13,04 dan masuk kategori baik dengan rentang nilai 8 – 15. Rata-rata peningkatan pengetahuan atau N-Gain tercatat 5,16 poin per peserta.
Pada hari kedua, kader mempraktikkan skrining risiko PJB pada ibu hamil menggunakan format yang telah disediakan. Praktik mencakup wawancara serta pemeriksaan tinggi badan, berat badan, tekanan darah, dan kadar hemoglobin menggunakan alat ukur digital.
Kemampuan teknis peserta dinilai menggunakan Lembar Observasi Keterampilan Teknis Skrining yang mencakup 10 aspek penilaian.
Hasil observasi menunjukkan sebagian besar kader sudah mampu menjalankan tahapan dasar secara mandiri. Tahapan tersebut meliputi menyapa sasaran, menyiapkan alat, dan melakukan anamnesis.
Namun, beberapa bagian masih membutuhkan pendampingan. Kader masih perlu meningkatkan kemampuan dalam menghitung dan menginterpretasikan Indeks Massa Tubuh (IMT) serta melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan Easy Touch Hb Meter.
Nurfantri menyebut pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan kader, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat langsung diterapkan di masyarakat.
“Kader kini dibekali kemampuan mengukur tekanan darah, menghitung IMT, memeriksa kadar hemoglobin, mencatat hasil skrining, dan menentukan tindak lanjut bagi sasaran yang memiliki risiko,” lanjutnya.
Dia berharap pelatihan ini bisa meningkatkan kepercayaan diri kader dalam menjalankan skrining sekaligus membantu mereka memahami batas kemampuan yang masih membutuhkan pendampingan tenaga kesehatan.
“Dengan kemampuan tersebut, kader diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan Puskesmas Soropia dalam menemukan faktor risiko PJB sejak tingkat desa,” harapnya.
Bagi masyarakat, keberadaan kader terlatih memungkinkan skrining dilakukan lebih rutin dan dekat dengan tempat tinggal wanita usia subur tanpa harus menunggu kunjungan ke puskesmas.
Hasil skrining yang menunjukkan risiko juga dapat ditindaklanjuti melalui rujukan lebih cepat ke Puskesmas Soropia. Kader sekaligus dapat memberikan edukasi mengenai PJB dan pentingnya pemeriksaan sebelum menikah maupun sebelum kehamilan.
“Upaya tersebut diharapkan membantu meningkatkan kesadaran wanita usia subur mengenai faktor risiko PJB dan mendukung pencegahan kelainan jantung pada bayi yang akan dilahirkan. Penguatan kapasitas kader juga diharapkan dapat membangun sistem deteksi dini berbasis masyarakat yang berkelanjutan sekaligus memperkuat alur rujukan dari desa ke Puskesmas Soropia,” pungkasnya.
Post Views: 9

7 hours ago
11
















































