Wakatobi – Kondisi jembatan di Desa Mola Nelayan Bhakti, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), terlihat makin rusak parah. Akses penghubung tersebut bahkan ada yang tidak bisa dilalui warga.
Dari pantauan Kendariinfo di lokasi, ada titik yang hanya tersisa sekitar sejengkal bagian pinggir jembatan yang masih dapat dilalui pejalan kaki. Meski demikian, warga masih tetap melintas namun dengan ekstra hati-hati.
Di titik lainnya, badan jembatan tampak terputus dan hanya disambung menggunakan kayu. Sementara pada bagian ujung, jembatan tidak bisa lagi diseberangi karena kondisinya rusak total dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki sementara.
Badan jembatan terputus yang disambung menggunakan kayu di Desa Mola Nelayan Bhakti, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Wa Listiani/Kendariinfo. (5/2/2026).Jembatan yang dibangun pada 2017 itu sempat menjadi ikon populer kawasan Mola Raya dan dikenal luas dengan nama Jembatan Pelangi. Namun, seiring waktu bergulir, kondisinya terus mengalami kerusakan hingga tampak suram dan memprihatinkan.
Kepala Desa (Kades) Mola Nelayan Bhakti, Derdi, menyampaikan kerusakan jembatan telah berkali-kali diutarakan melalui forum resmi pemerintah daerah, termasuk musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) kecamatan. Tetapi hingga kini, belum ada tindak lanjut nyata atas pengajuan tersebut.
“Di beberapa tahun terakhir, justru Jembatan Pelangi ini yang sering kami ajukan lewat musrenbang kecamatan. Selalu jembatan yang kami usulkan. Tapi sampai hari ini, entah tidak ditanggapi atau justru kekurangan dana,” ujarnya saat ditemui Kendariinfo di area kediamannya, Selasa (12/5/2026).
Persoalan itu juga pernah disuarakan Derdi melalui penetapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) pada 2025. Derdi menyebut, pengajuannya ditanggapi langsung oleh Bupati Wakatobi, Haliana, dengan respons terkait efisiensi anggaran.
Jembatan di Desa Mola Nelayan Bhakti, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, dengan patahan cukup panjang yang perbaikannya tidak mampu ditanggung dana desa. Foto: Wa Listiani/Kendariinfo. (5/2/2026).“Di penetapan RPJMD 2025, pernah juga kami suarakan, ada perwakilan DPR, Bupati. Saya juga pernah mengusulkan bagaimana caranya jembatan ini dilirik, karena ini juga ikon pariwisata Wakatobi. Pernah saya suarakan waktu itu dan langsung ditanggapi Bupati. Alasan beliau adalah terkait efisiensi anggaran,” jelas Derdi.
Ia menjelaskan kondisi fisik jembatan makin rusak parah sejak Februari 2026 dan diperkirakan paling lama bertahan hingga tahun ini. Meski bagian atas jembatan tampak bagus, material beton di bawahnya banyak yang runtuh serta tersisa besi penyangga.
Sementara itu, anggaran dana desa tahun ini yang dialokasikan untuk pembangunan hanya sekitar Rp50 juta. Anggaran tersebut dinilai tidak mampu untuk membangun kembali jembatan yang membutuhkan biaya hingga miliaran rupiah.
“Dengan anggaran Rp50 juta, paling hanya beberapa meter saja untuk bisa membuat jembatan baru. Sudah tidak memungkinkan direhabilitasi. Kecuali diadakan pembangunan ulang. Setelah dihitung bersama perangkat desa, perlu anggaran miliaran untuk mengembalikan jembatan seperti semula,” ungkap Derdi.
Mewakili Pemerintah Desa (Pemdes) Mola Nelayan Bhakti, Derdi berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra, hingga pemerintah pusat segera membantu proses perbaikan. Pasalnya, jembatan tersebut merupakan akses utama aktivitas perekonomian yang sangat dibutuhkan masyarakat setempat.
Jembatan Desa Mola Nelayan Bhakti Wakatobi Patah, Warga Perbaiki Darurat dengan Kayu
Post Views: 12

22 hours ago
14












































