Muna Barat – Seorang balita berusia 2 tahun asal Desa Tondasi, Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra), Siti Fatimah Az Zahra, tengah berjuang melawan kanker kelenjar getah bening. Saat ini, ia menjalani pengobatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Wahidin Sudirohusodo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Selama menjalani perawatan, biaya pengobatan Siti Fatimah ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Namun, sang ibu masih harus memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari selama mendampingi putrinya di Makassar, seperti susu, popok, makanan, hingga biaya transportasi.
Ibu Siti Fatimah, Wa Nona, mengatakan dirinya telah mendampingi sang buah hati seorang diri sejak Desember 2025. Saat ini, mereka tinggal di Rumah Singgah Sigap BTP Makassar sambil menunggu jadwal rawat inap untuk menjalani kemoterapi kedelapan.
“Sebenarnya biaya pengobatan selama anak saya dirawat ditanggung BPJS. Sekarang kami tinggal di Rumah Singgah BTP Makassar. Di sana makan, transportasi, dan kebutuhan anak sebenarnya dibantu, tetapi kadang tidak ada donasi yang masuk sehingga kebutuhan seperti susu dan popok tidak tersedia,” ujar Wa Nona kepada Kendariinfo melalui pesan WhatsApp, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, kondisi Siti Fatimah yang juga mengalami stunting membuat putrinya harus mengonsumsi susu tinggi kalori. Namun, harga susu tersebut cukup mahal sehingga kerap menjadi beban bagi keluarga.
“Anak saya harus minum susu tinggi kalori seperti Nestle DanGro. Harganya cukup mahal dan saya kadang tidak sanggup membelinya karena bapaknya jarang mengirim uang. Anak saya juga sering tidak mau makan makanan yang disediakan rumah singgah, jadi saya harus membeli makanan sendiri, termasuk buah-buahan yang memang harus dia konsumsi,” katanya.
Wa Nona mengaku perjuangan mendampingi putrinya selama menjalani pengobatan bukanlah hal yang mudah. Selain mengurus kebutuhan Siti Fatimah, ia juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri selama berada di Makassar.
“Rumah singgah memang mengantar makanan saat jam makan siang. Tapi untuk pagi dan malam saya harus beli sendiri. Saya mendampingi anak saya seorang diri sejak bulan Desember tahun lalu sampai sekarang. Semuanya tidak mudah, tetapi saya tetap jalani demi kesembuhan anak saya,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan masih ada sejumlah obat, terutama vitamin, yang terkadang harus dibeli di luar rumah sakit. Padahal, bantuan dari rumah singgah hanya bisa diberikan apabila disertai resep dokter.
“Kadang ada obat yang harus dibeli di luar, terutama vitamin karena anak saya gampang sakit. Rumah singgah sebenarnya bisa membantu kalau ada resep dokter, tetapi saat saya meminta resep itu tidak diberikan,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga turut menjadi tantangan. Wa Nona mengatakan suaminya, Suandar, bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu sehingga tidak selalu dapat mengirimkan uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
“Bapaknya bekerja serabutan. Kadang mendulang, kadang membantu orang. Penghasilannya tidak menentu, jadi kadang dua minggu bahkan sampai sebulan baru bisa mengirim uang,” jelasnya.
Saat ini, Siti Fatimah masih berada di Makassar sambil menunggu jadwal rawat inap untuk menjalani kemoterapi kedelapan. Di tengah perjuangan tersebut, keluarga berharap adanya uluran tangan dari masyarakat agar kebutuhan sehari-hari selama proses pengobatan dapat terpenuhi.
Bagi masyarakat yang ingin membantu kebutuhan Siti Fatimah Az Zahra, keluarga dapat menghubungi orang tuanya di nomor 0823-1896-6051. Bantuan juga dapat disalurkan melalui rekening atau dompet digital DANA atas nama Wa Nona di nomor 0823-1063-6857.
Post Views: 21

5 days ago
29
















































